Cara Shalat Ghaib Yang Sesuai Dengan Syariat Islam

Tata cara shalat ghaib yang sesuai dengan syariat Islam haruslah sesuai dengan dalil maupun pendapat ulama.

Apa saja dalil dan ketentuan shalat ghaib yang sesuai dengan syariat Islam? Kita akan bahas di artikel ini secara lengkap.

Pengertian Shalat Ghaib

Shalat ghaib sendiri merupakan shalat jenazah namun mayit tidak berada ditempat atau berada ditempat lain. Hal ini dilakukan dengan niat mengirimkan doa kepada orang yang meninggal.

Lalu bagaimana hukum shalat ghaib?

Sebelum kita membahasa tata caranya, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu dalil dan hukum dibalik shalat ghaib ini.

Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama. Ada ulama yang tidak membolehkan, ada pula ulama yang membolehkan dengan syarat. Berikut penjelasannya.

Dalil Shalat Ghaib

Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pemimpin Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan beliau sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Al-Quran di hadapan beliau.

Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyaknya para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.

Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk melakukan shalat ghaib di Madinah. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

“Bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali.” (HR al-Bukhari)

Cara Shalat Ghaib Yang Sesuai Syariat

Tata cara pelaksanaannya sama seperti shalat jenazah, yaitu dengan empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud.

Setelah takbir pertama (takbiratul ihram), yang dibaca adalah surah Al-Fatihah.

Setelah takbir kedua, yang dibaca adalah shalawat atas nabi minimal shalawat pendek “Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad”.

Setelah takbir ketiga, yang dibaca adalah doa untuk jenazah. Doa yang dibaca biasanya adalah doa singkat yang berbunyi:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuniah dia, berilah dia rahmat, dan sejahterakan dia, serta maafkanlah dia.”

Setelah takbir keempat, salam. Namun, sebelum salam, disunnahkan untuk membaca doa:

ُاَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَه

“Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

Baca Juga: Al Azhar Memorial Garden Harga

Niat Shalat Ghaib

Di atas adalah penjelasan tentang tata cara shalat ghaib. Sebelum shalat tersebut ditunaikan, orang yang akan menunaikannya harus berniat terlebih dahulu.

Niatnya sebagaimana niat shalat lainnya, yaitu wajib digetarkan dalam hati, dan apabila ingin dilafazkan, maka lafaznya berbunyi:

أُصَلِّي عَلىٰ مَيِّتِ (فلان) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit (si A) empat kali takbir fardhu kifâyah karena Allah Ta’ala.”

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Apabila kita sebagai makmum ingin ikut menunaikan shalat tapi kita tidak mengetahui identitas jenazahnya secara pasti, maka lafaz niatnya bisa berupa sebagai berikut:

أُصَلِّي عَلىٰ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit yang dishalati oleh imam empat kali takbir fardhu kifâyah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

Demikian penjelasan seputar tata cara shalat ghaib sunnah. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.