Tantangan dan Strategi Produksi secara Masal

Pengembangan biodiesel secara masal hadapi sebagian halangan dan tantangan yang wajib dihadapi dari segi produksi maupun di dalam perihal pengenalan kepada masyarakat secara luas. Sementara itu, keluar bahwa perdagangan biodiesel di pasar internasional masih terlampau terbatas.

Terbatasnya perdagangan ini karena negara-negara yang memproduksinya masih mengkonsentrasikan produksinya untuk pasar domestik. Diperkirakan hingga th. 2017 total perdagangan biodiesel dengan pengukuran fill rite flow meter di dunia diperkirakan tidak lebih dari 2.5 miliar liter padahal produksinya mendekati angka 25 miliar liter.

Peningkatan kapasitas produksi di lokasi Asia Pasifik mengindikasikan bahwa industri biodiesel sudah berkembang sebagai tidak benar satu sumber pendapatan utama ekspor dan merupakan bagian dari strategi dan kebijakan pemerintah yang mengenai dengan lingkungan Industri biodiesel di negara berkembang bisa dikatakan masih di dalam tahap infant industry.

Dengan era awal pertumbuhan yang relatif serupa lebih kurang th. 2005/2006 termasuk Indonesia, belum bisa mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku yang dimilikinya. Mengingat hingga waktu ini belum ada sinergi yang diwujudkan di dalam satu dokumen konsep strategis yang komprehensif dan terpadu, supaya akan timbul sebagian tantangan yang wajib diatasi. Beberapa tantangan tersebut, meliputi:

 

Rencana pengembangan lahan untuk tanaman penghasil bahan baku biodiesel yang dibikin oleh Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan belum mengenai segera dengan konsep pengembangan produksi biodisel di sektor energi.

Rencana Pemerintah di dalam pengembangan kekuatan dan instrument kebijakan yang dibutuhkan di dalam pengembangan biodisel belum mengenai segera dengan konsep dari para pihak pelaku usaha biodiesel dan pengelola lahan pertanian yang terlampau luas untuk membuahkan bahan baku.

Ketidakpastian resiko investasi di dalam komersialisasi pengembangan biodiesel dan belum terbentuknya rantai pemasaran biodiesel (M. Abdul Wahid dkk: 2002).

Agar halangan tersebut bisa diatasi wajib didukung adanya kebijakan Pemerintah berkenaan pertanian dan kehutanan yang mengenai dengan peruntukan lahan, kebijakan insentif bagi pengembangan biodisel, ekonomi dan teknologi produksi dan pemanfaatan biodisel, supaya ada kejelasan informasi bagi pebisnis yang tertarik di dalam usaha biodisel.

Walaupun harga minyak bumi turun hingga US$60/barel, mereka masih bisa produksi biodiesel sendiri yang lebih tidak mahal dibanding belanja solar tanpa subsidi hanya dengan gunakan biodisel menjadi minimal 30%.

Bagi perusahaan besar, untuk mencapai 30% tersebut atau bahkan lebih tinggi kembali tidak akan sukar karena mempunyai dana untuk riset, baik dijalankan sendiri maupun membayar pihak lain. Penghematan biaya bahan bakar minyak akan menjadi terlampau besar jika harga minyak mentah dunia naik menjadi di atas US$70/barel (Zeller, M., dan Grass, M: 2007).

Persoalan di dalam pengembangan tanaman hayati penghasil biodiesel oleh rakyat. Petani kecil tidak mempunyai lahan kembali dan tidak akan senang menggeser tanaman yang sudah ada untuk diganti dengan tanaman hayati penghasil biodisel. Pemerintah Daerah termasuk belum berani melangkah jauh karena cemas akan gagal karena pasar belum menyadari supaya petani akan merugi tanpa adanya kejelasan yang tegas untuk kebijakan dari Pemerintah.

Di sebagian tempat, hasil panen petani tidak ada yang belanja supaya petani mencabuti tanamnnya kembali. Petani membagikan hasil tanamannnya kepada oranglain. Mereka belum bisa produksi sendiri menjadi biodisel karena peralatannya belum ada di pasar (masih di dalam tahap percobaan) dan penyuluhan berkenaan sistem pembuatan biodisel. Jadi, wajib ada kejelasan berkenaan pasar, harga untuk petani dan informasi berkenaan pengolahan biodisel.

Produksi biodisel masih terbatas, customer belum berubah pemanfaatan bahan bakar gunakan biodiesel disebabkan skala ekonomi belum efisien di mana jumlah produksi bahan baku masih terlampau sedikit untuk diproses di dalam pabrik. Posisi petani termasuk terlampau rentan jika tiba-tiba harga minyak mentah dunia turun hingga menjadi US$60/barel. Siapakah yang akan belanja sumber kekuatan milik petani, apakah BUMN atau swasta.

Pengusaha tentu menghendaki keutungan dan mempertimbangkan faedah ekonomi yang akan diperolehnya. Sejumlah segi biofisik termasuk bisa menghambat kesibukan produktif akibat sulitnya akses, kemiringan tanah, ketidaksuburan lahan dan keadaan lainnya.

Tantangan ini makin berat mengenai dengan ketersediaan peta rencana dan investasi, bahkan mengingat kebijakan inisiatif nasional memusatkan dan menyelaraskan informasi, pemanfaatan dan lisensi mengenai masih belum selesai. Aspek ekonomi dan finansial adalah hambatan utama investasi di dalam pembangkitan kekuatan berbasis biodisel. Regulasi ini sediakan harga berbeda terkait jenis kekuatan terbarukan dan lokasi produksi (Agatemor, 2006)

Salah satu strategi untuk menciptakan biodiesel secara masal dan lakukan pemasaran berbagai kalangan bisa dijalankan dari sebagian segi tidak benar satunya dengan lakukan penyuluhan di masyarakat luas. Salah satunya dengan menggiatkan kesibukan pembelajaran dan penelitian yang bertujuan untuk menaikkan mutu dan mengenalkan sistem pembuatan biodisel.

Upaya lain yang baik untuk dijalankan adalah dengan adanya keterlibatan mahasiswa untuk mengembangkan teknologi dan lakukan inovasi, baik pengembangan biodiesel itu sendiri maupun instrumen yang terjalin dengan produksi. Kegiatan praktikum dan penelitian (research) bisa mengembangkan keterampilan dan kemampuan berpikir (hands on dan minds on).

Selain dari segi pendidikan dari segi pemerintah wajib menopang pertumbuhan pasar biodiesel yakni (Thurmond 2009) di dalam buku Haigh (1996:7): Mandat pemerintah (government mandates), insentif ajak (tax incentives), kebebasan kekuatan (energy independence), keamanan nasional (national security), keamanan dari sisi ekonomi (economic security) dan keamanan dari sisi lingkungan (environmental security).

Di negara berkembang masalah lebih karena masalah kemampuan finansial pemerintah pusat di dalam mengimbuhkan pertolongan untuk tumbuh kembangnya industri tersebut. Karena sebagai industri yang baru, industri ini belum bisa membuahkan produk dengan harga jual di pasaran.